Sabtu, 20 April 2013

Surat Cinta. Ke sekian.


Bismillaahirrahmaanirrahiim..
Ini surat sepotong cinta selepas Subuh.
Sepotong cintaMu subuh ini mengalir melalui seteguk kopi susu yang uapnya menggelorakan hangat semangat.
Sepotong cintaMu subuh ini menggelantung bersama embun yang menyegarkan pandang dan rasa. 
Sepotong cintaMu pagi ini tercorak pada langit rupa-rupa warna melapangkan jiwa.
Sepotong cintaMu pagi ini berjalan bersama kakiku yang masih Kau beri mampu berlaku tanpa dibantu.
Sepotong cintaMu pagi ini berirama dari satu dua burung kecil yang melintas. menjauh. mendekat. menggoda. memikat. 
Sepotong cintaMu pagi ini tersadarkan melalui semut kecil yang bahkan tak mampu kudengar suara dan langkahnya, namun dengan kuasaMu rezeki tetap dia punya. 
Maka mana boleh aku tak malu untuk menyerah!
Sepotong cintaMu pagi ini terkata dari percakapan dua orang teman di sisi-sisi. tentang syukur dan alam lepas pandang yang lapang dada.
Sepotong cintaMu pagi ini menyelimuti hangatnya dari sepasang kaus kaki yang kukenakan dalam rangka meraih ridhoMu.
Hei kaus kaki yang baik, rindukah kau menapak kembali Tanah Suci?
Sepotong cintaMu pagi ini terasa dari nasi kuning yang dinikmati dari beranda lantai tiga.
Sepotong cintaMu pagi ini membara melalui mentari hampir Dhuha.
Sepotong cintaMu pagi ini berdebar melalui detak jantungku, yang entah bagaimana, Kau liputi hingga belum pernah berhenti hingga saat ini.
Menggetarkan kesempatan.
Menolak putus asa.
Sepotong cintaMu pagi ini berdendang dari suara yang biasa pada saluran radio yang biasa. pengingat hati yang kadang berlebihan sendu.
Ah iya, Sepotong cintaMu fajar tadi, terlantun dari kumandang adzan . memanggil pasukan-pasukan Ilahi. Menyatu Visi.
Sepotong cintaMu sepertiga malam tadi teraba pada lembut sajadah yang tergelar. menampung air mata keinsafan.
Sepotong cintaMu sepertiga malam tadi terbangun oleh suara seorang ibu yang melahirkan ibu: mengajak rukuk dan sujud, yang selalu diawali dengan tanya yang sama: “sehat-sehat, nduk? Jangan lupa makannya harus yang bener ya.”
Sepotong cintaMu di awal hari ini, …
Ah, tunggu sebentar!
Bagaimana pula hamba ini, Rabb.
lihatlah belum habis hamba bercerita, 
ternyata cintaMu tak terbilang kata.
Maafkan hamba sering kufur nikmat Ya Allah..
Maafkan hamba Ya Waduud.. Ampuni hamba.
Maka, SEPENUH CINTAMU SETIAP HARI HINGGA AKU MATI, 
hamba memohon rahmat dan petunjukMu yang lurus agar terus menghujam hati.
Selalulah bersamaku.
Selalulah berdekatan denganku.
Ini saya Ya Rabb, yang mencoba menyamakan kadar cintaMu yang tak pernah sepotong-sepotong.
Pelukis langitku, pemeluk mimpiku, pemilik jiwaku,
Mampukan aku untuk terus mencintaiMu,
Bandung, 20 Maret 2013,
Tertanda: hambaMu.

Jumat, 22 Maret 2013

Perjalanan hari kedua

Kata Bapak, ini beberapa ribu kilometer di atas lautan.
India. Feb 16, 2013.

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Jika salah seorang sahabatku pernah mendeskripsikan padamu tentang betapa indahnya matahari terbenam di horizon di atas lautan,
Maka, sekarang mungkin telah tiba waktuku menceritakan padamu betapa cantiknya matahari terbit di horizon pula,
Dari atas awan.

Perjalananhari ke-2.

Tunggu. Tunggu sebentar.
Ada yang ingin sedikit kugarisbawahi di sini.

Kawan, aku hampir-hampir sungguh tak peduli
jika engkau sering menilaiku berlebihan dalam menikmati sesuatu.
Seperti yang mungkin telah kau tebak: begini aku akan mengelak:
lebih-kurang, cantik-buruk, indah-biasa saja, dan segala rupa kata sifat yang kita tahu, menurutku adalah mereka mempunyai sifat yang sama sebagaimana waktu: relatif adanya.

Maka bagaimana kau mensifati caramu memandang hidupmu, sama sekali bukanlah kendaliku.
Begitu pula sebaliknya, menurutku.
Perkara kau setuju atau tak setuju, aku merasa tak perlu tahu.
Terima kasih, ngomong-ngomong, kau masih mau berteman denganku. :)
Semoga Allah memberi taufik, hidayah, dan rahmat kepadamu.
Kepada kita. 
aamiin.
Ah, sampai dimana kita tadi? Matahari dan horizon ya?
Pagi ini, subuh ini, aku terbangun dari atas Kuwait Airlines dengan badan sedikit kaku-kaku. :)
Alhamdulillah Allah masih memberikan kenikmatan beristirahat untukku, bapak, dan para rombongan jemaah umroh yang lain.
Sudahkan kuceritakan kepadamu awal mula perjalanan bertamu ini?
Ah, makin panjang saja nanti. mungkin lain kali ya, insyaAllah.

Kawan, siapalah yang tak haru jika berkesempatan bertamu ke rumah Yang Meliputi Segalanya? Sumber rindu dari segala rindu?

Selepas bertayamum lalu shalat Fajr dan Subuh, sejenak aku melepas penat dengan jalan-jalan di atas pesawat. haha. ketauan banget ya susah diemnya. :D
Mayoritas 'tirai' jendela kabin masih tertutup. Beberapa jemaah haji masih terbuai mimpi. Melangkah ke depan, kutemukan kursi eksekutif kosong melompong. Tak membiarkannya mubadzir, duduk manislah aku disana.

Ah, rupanya Allah ingin menatapkan mataku pada setengah jam yang indah rupa-rupa.

Hitam. Biru tua. Biru muda. Putih lamat-lamat. Kuning. Oranye. Lalu jingga.
itulah warna yang tampak di mataku dari atas horizon lepas Subuh ini.
Subhanallah.. Lengkaplah sudah inginku yang kadang terlupa: melepas subuh dan menjelang maghrib dari atas awan.
Maka syukur Alhamdulillah berkali-kali terucap. Senja kemarin Allah menampakkan indahnya jingga yang tegas pada lukisan lepas pandangNya. Subuh ini pun rupanya tertakdir begitu. Aku masih seperti biasa: menulis, bercerita kepadamu, dan kepada diriku di masa esok,  sambil menyesap teh manis beraroma tak biasa yang terhidang di tempat yang tak seperti biasa. pada sebuah perjalanan. yang sungguh luar biasa.

Alhamdulillaah..


Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya.Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu,antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?Dan kepunyaan-Nya lah bahtera-bahtera yang tinggi layarnya di lautan laksana gunung-gunung.Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?Semua yang ada di bumi itu akan binasa.Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?Q.S. [55:17] - [55:28]


Sabtu, 15 Desember 2012

Maka Aku Menulis


3 Desember. 2012.
Bandung. Salah satu kota kesayangan.
Bismillaahirrahmaanirrahiim..
Alhamdulillaahirrabbil'aalamiin..
Terima kasih kepada Penguasa Hati dan Pemberi Kejadian: Allah SWT
Mungkin bisa jadi,
pada suatu ketika, -jika Allah memberiku pengalaman atau kesempatan menjalani masa tua-, ingatanku akan menghilang.
sedikit demi sedikit potongan kenangan akan hanya terlihat samar. segala bayangan menjadi kabur.
atau malah hilang sama sekali. 
Menjadi Tiada.
Maka, ketika masa itu tiba, kuharap perasaanku masih bisa 'bekerja' sebagaimana mestinya.
tidak menjadi lupa bagaimana 'rasa'nya bahagia, sedih, puas, kecewa, nyaman, benci, atau sayang. Atau apapun dia mampu merasa.
Maka aku menulis.
di jurnal syukur,
di lembar kertas,
di atas tissue,
di notepad laptop,
di komputer rumah,
di buku catatan Pemsis,
atau dimana saja.
Pernah suatu kali di selembar daun yang hampir kering yang kupungut sembarang di lapangan SR.
tentu saja jurnal syukur, kertas, tissue, laptop, komputer, buku catatan, dan daun, -sebagaimana "hidup"-, adalah tidak abadi adanya.
maka aku tidak mengatakan bahwa "aku menulis untuk mengabadikan kejadian."
Bukan.
Bukan itu.
Aku menulis.
sehingga jika pada suatu ketika nanti Allah mengizinkanku me'lupa'kan kejadian dan pengalaman yang telah lalu, 
aku masih dapat memanggil kembali perasaan-perasaanku di atas jurnal, kertas, tissue, laptop, komputer, buku catatan, atau daun itu.
semoga saat itu perasaanku masih ber'fungsi' sebagaimana mestinya.
maka melalui bantuan kacamata lensa positif seperti yang ibuku sering kenakan sekarang, akau akan membaca. memanggil kembali perasaan-perasaan yang Allah izinkan pernah terasa.
atau jika penglihatanku pun mulai membuktikan diri bahwa tiada dzat yang abadi selain Penguasa Hati, 
Maka aku harap,
saat itu ada seseorang yang bersedia menuturkan tulisanku di atas jurnal, kertas, tissue, laptop, buku catatan, atau daun itu, - dengan sabar dan penuh perhatian.
bisa jadi itu suamiku. atau anakku. atau cucuku.
kuharap bukan seseorang yang tak kukenal. bukan dokter. bukan suster. atau siapapun yang tidak punya ikatan batin denganku.
atau jika.
ini hanya jika.
:segala inderaku telah berhenti bekerja,
-semoga saja tidak dengan perasaanku-
tulisanku, sengaja atau tidak, akan terbaca oleh orang yang kusayang dan menyayangiku.
mungkin suamiku. atau adikku. atau anakku. atau cucuku.
atau sahabatku yang akan menyampaikannya kepada salah satu dari mereka.
Lalu, dengan izin Allah SWT,
yang belum terpikirkan olehku bagaimana caranya,
mungkin lewat mimpi, atau telepati,
aku dapat kembali merasakan perasaan-perasaan yang pernah terasa.
Alhamdulillaah..
Maka aku menulis,
sehingga jika aku sudah tiada,
semoga Allah menakdirkan suamiku, anak-anakku, atau cucuku nanti,sengaja atau tidak sengaja,
-mungkin mereka tiba-tiba menemukan buku ini di gudang, atau sahabatku memberikannya kepada salah satu dari mereka,-
: sempat membaca satu dua tulisanku. Lalu merasakannya. Lalu menemukan celah mengambil hikmah di setiap katanya.
Ah, sebenarnya aku memang telah membuat beberapa diantara tulisan-tulisan itu tertuju untuk mereka kelak.
Semoga Allah benar-benar menakdirkan mereka untuk membacanya.
Lalu menyadari bahwa mereka begitu berharga.
Alhamdulillaah..
Maka aku menulis.
mungkin dengan susunan kata, atau metode bercerita yang sedikit berbeda dengan buku merah itu. yang warna kertasnya sudah cokelat.
dengan lubang akibat rayap disana sini.
dengan sebuah foto wanita 20an tahun memakai kebaya.
buku itu ditemukan bapak di gudang rumah lama simbah. di dekat pendopo. mungkin sekitar dua tahun yang lalu. lalu aku simpan diam-diam.
disana tertulis, dengan huruf kapital rapi, nama kecilnya.
itu ibuku.
buk, kalau ibuk mau,
nanti aku bacakan buat ibuk.
kapanpun ibu mau.
insyaAllah.
-Allah membaca do'a do'aku. Dan Allah Maha Mengabulkan.-

Senin, 05 November 2012

Draft

Ren, ada 6 buah draft tulisan yang belum tau endingnya bakal tetap jadi draft atau nanti reni baca.

Kadang aku mikir ya ren.
dulu kalo sama bu irin kan diajarin tentang penggunaan much dan many.
Kadang, -secara sangat amat tidak ilmiah-, buat aku rasanya much sama many ini pemakaiannya relatif.
Menurutku, bisa dihitung atau tidaknya sesuatu buat seseorang itu bisa jadi dipandang berbeda. engga mutlak.

Kayak 'cerita'.
Buat aku ya ren,
kayaknya 'cerita' -yang dituliskan maupun yang dilisankan- itu akan memilih much ketimbang many sebagai pairing wordnya dalam kalimat.
tidak dapat dihitung. tidak terhitung.
kait mengait kayak anyaman yang terus dianyam.
sampai..
sampai kapan ya ren?
mungkin sampai hidup selesai.
yang siapa tau sampai kapan itu?

eh ini kenapa dari ngomongin draft yang engga selesai-selesai, jadi ngomongin hidup ya ren?
haha
kayaknya gara-gara aku kangen bu irin deh.
atau gara-gara kangen pas les di bu irin?
atau karena kangen sama siomay yang hampir selalu aku beli sebelum les bu irin buat ganti makan siang?
*yak makin jauh dari duduk perkara. *eh emangnya perkara bisa duduk ren? *cukuuuup sekian ca, silakan turun dari podium sebelum dilemparin pepaya sama reni. :D
haha.

sekarang ini hampir sore di Bandung.
habis ini aku mau les Toefl. sama orang luar negeri ren. ibunya agak galak. haha. tapi gapapa yang penting belajar ya ren.

kira-kira berapa sore dari sekarang kita bisa ketemu ya ren?
jadi inget tulisanku tentang 'sore' di 'rumah'ku yang satunya :

http://www.facebook.com/notes/ustica-haedy-riastuti/sore/10150966088095814
kita bisa merasakan alam dari arah mana saja kan ren? Bisa jadi suatu hari kita akan menikmati matahari terbit dari Bromo sambil mengomentari uap teh melati yang mudah sekali dingin di sana. *seperti yang kita kagumi pada tulisan dan foto berbicara kawanmu itu*. Bisa jadi suatu senja nanti kita akan duduk di tepi pantai, sambil minum es kelapa yang daging kelapanya begitu sulit diambil dari dalam tempurung berisi airnya yang segar. lalu menertawai diri kita sendiri. Atau bisa jadi kita akan menikmati apapun warna alam, -tidak bersama-sama- dari balkon rumah kita masing-masing. entah siapa yang membersamai kita kelak. Sedemikian rupa Allah menciptakan alam memang untuk kita syukuri ya ren. Apapun keadaannya. Dan tentu saja. kita boleh memaknainya dengan cara yang berbeda-beda. terserah bagaimana hati kita punya rasa.

Selamat sore Reni. sip2 aku siap siap les dulu yaa.. :))
ren, ren.. aku bisikin salah satu resolusi baruku buat tahun 2013 yaa.. ;) Bareng Reni.
Coba tebak. ;D

Sabtu, 22 September 2012

Ada banyak yang terlewat belum saya ceritakan. atau memang tidak.
entahlah.

Ganti topik.

yaaaa jadiiii.. Today i had lunch with Cipa. Shifa Kusumawati. My SHS Best friend. we share, we talk, we express kerinduan dengan bercerita-cerita banyaak sekali. haha.
lalala, pokoknya dengan sesi curhat yang berakhir terpaksa, at the end she almost got her bus left her.
jadi kita lari-lari ngejar bis, yang taunya bukan bisnya shifa *bisnya shifa itu bis nomor tujuh*.
ya gitu deeh.
ternyata bis tujuh masih nongkrong santai sambil ngopi di parkiran.

will miss you shif. you know you grew up sis! *jangan pernah lupa percapakan kita di kamar 12 seroja itu ya cipaa. :*

oia.

i have my new favourite band named White Shoes & The Couples Company. You should hear how they can bring you to the 'lawas' mode. haha. emang saya sukanya yang lawas-lawas ya kayaknya.
And even, one of their song titled Bersandar has been covered by Kings of Convenience when they performed in Sabuga.

I also -secara tidak sengaja- found new inspiring blogger. Her name is Suci. She is a productive blogger. And she has been married. Wiii.
Besok kalo aku udah married, aku mau tetep nulis! harus! :D
She inspire me not to write unless i write in English! -semoga ga cuma jadi wacana Ya Allah :))-
bahasa inggrisnya si mbak suci ini baguuus, mengalir gimana gitu. Enak deh bacanya.
sok kunjungi http://lastminutegirl.blogspot.com

Sekian dulu untuk siang ini.

Saya mau ngomong sendiri dulu.

Ren ren, malem ini aku mau liat mural di Tamansari. kerjaannya teman-teman FSRD kalo ga salah. believe me, if you were here, pasti reni adalah the first person yang aku ajak deh. eaaa
aku kangen tauk, pulang malem-malem dari lab biosis hewan, mampir makan di bungsu, atau makan soto, atau jajan semangkuk kacang ijo anget porsi setengah di bawah temaram lampu kota Bandung *tsaaah*, bareng kamu ren. huhu.
makanya :

*sing* Cepat pulaaang. cepat kembali jangan pergi lagiiii.

doain aku punya uang buat temenin reni ngerjain TA di Bali yaa.
BTW ren tugas S2 nih udah mulai seabrek-abrek. pasti enak kalo aku ngerjainnya di pinggir pantai di Bali.
pantai apa tuh yang reni bilang enak? so sweet gitu? haha. -aku ga kebayang, kalo kamu aja bilang itu so sweet, lhah gimana aku ya ren. udah menye blue mata becek kali yaa. .haha
nanti di pantai fotoin aku yang bagus ya ren. latar belakangnya sunset gituuu. ya ya ya.
wah bentar. kok bau-baunya aku malah bakal gangguin kamu dalam pengerjaan TA ya ren, bukannya bantuin.
haha.

ga. ga boleh. nanti aku bantuin ren!
lewat doa dan penyaluran semangat! ;))

ren aku punya kabar baik. nanti tagih buat cerita yaa. :D
dan satu lagi ren : i wont push anything lagi. aku udah lepas deh. biarin Allah aja yang atur sesuka Beliau. Semoga yang terbaik ya ren. aminin dong. hehe.
Aku mau siap2 dulu ke Salman. kamu kangen Salman engga ren? :')


Udah dulu yaaa.
See ya!!
 :D


Selasa, 28 Agustus 2012

Niat angin



Mungkin,
bisa jadi,
memang hanya akan sebatas ini saja.
aku akan mempersiapkan diri,
pun mempersiapkan jawaban dari pertanyaanmu,
mengusahakan keberanian dari ketakutanmu
dan membantu mempersiapkan dirimu.
Dengan ridha dan bantuan Allah, Tuhan kita,
sungguh aku ikhlas,
jika buah yang tumbuh dari akar pohonmu yang mengokoh, bukan aku yang memetiknya.
melihatmu bahagia sudah lebih dari cukup bagiku.

jika dengan cahaya lilinku yang hanya secercah menerangi jalan kita,
kau dapat lebih jelas melihat apa yang Allah suka.
karena kita harus sama-sama memahami,
bahwa bahagia adalah taat.

Alhamdulillaahirrabbil'alamiin..


Gambar diambil dari sini.

Berlayar



Sahabat,
mungkin kau akan sedikit mengerutkan kening,
ketika bilamana,
-di tengah kesibukanmu melihat ikan yang lomba berenang mengikuti arah kapalmu
atau memandang lepas pada satu garis linear biru tak berujung
atau menatap ke atas tirai hitam bertabur bintang tak berbatas- itu,
kau menyempatkan diri mengambil beberapa dedaun cokelat yang diterbangkan angin
jatuh di atas dek kapal yang membawamu ke timur Indonesia kita,
lalu membacanya.

Maka mari kita bersabar menunggu berlalu satu purnama.
lalu akan kuceritakan apa yang ingin kau dengar.
yang tentu saja, dibolehkan juga olehnya untukku menceritakannya kepadamu.

Maka saat itu,
kau juga harus mengabarkan segala yang kau tatap
yang membuat hatimu membesarkan nama Tuhan Kita ke seluruh penjuru cakrawala.
saat itu, kau harus menceritakannya kepadaku apa yang tak sempat kutahu.

Maka mari kita tunggu satu purnama berlalu.


ini dia, selamat menatap Raja Ampat.