Bismillaahirrahmaanirrahiim..
Ini surat sepotong cinta selepas Subuh.
Sepotong cintaMu subuh ini mengalir melalui seteguk kopi susu yang uapnya menggelorakan hangat semangat.
Sepotong cintaMu subuh ini menggelantung bersama embun yang menyegarkan pandang dan rasa.
Sepotong cintaMu pagi ini tercorak pada langit rupa-rupa warna melapangkan jiwa.
Sepotong cintaMu pagi ini berjalan bersama kakiku yang masih Kau beri mampu berlaku tanpa dibantu.
Sepotong cintaMu pagi ini berirama dari satu dua burung kecil yang melintas. menjauh. mendekat. menggoda. memikat.
Sepotong cintaMu pagi ini tersadarkan melalui semut kecil yang bahkan tak mampu kudengar suara dan langkahnya, namun dengan kuasaMu rezeki tetap dia punya.
Maka mana boleh aku tak malu untuk menyerah!
Sepotong cintaMu pagi ini terkata dari percakapan dua orang teman di sisi-sisi. tentang syukur dan alam lepas pandang yang lapang dada.
Sepotong cintaMu pagi ini menyelimuti hangatnya dari sepasang kaus kaki yang kukenakan dalam rangka meraih ridhoMu.
Hei kaus kaki yang baik, rindukah kau menapak kembali Tanah Suci?
Sepotong cintaMu pagi ini terasa dari nasi kuning yang dinikmati dari beranda lantai tiga.
Sepotong cintaMu pagi ini membara melalui mentari hampir Dhuha.
Sepotong cintaMu pagi ini berdebar melalui detak jantungku, yang entah bagaimana, Kau liputi hingga belum pernah berhenti hingga saat ini.
Menggetarkan kesempatan.
Menolak putus asa.
Sepotong cintaMu pagi ini berdendang dari suara yang biasa pada saluran radio yang biasa. pengingat hati yang kadang berlebihan sendu.
Ah iya, Sepotong cintaMu fajar tadi, terlantun dari kumandang adzan . memanggil pasukan-pasukan Ilahi. Menyatu Visi.
Sepotong cintaMu sepertiga malam tadi teraba pada lembut sajadah yang tergelar. menampung air mata keinsafan.
Sepotong cintaMu sepertiga malam tadi terbangun oleh suara seorang ibu yang melahirkan ibu: mengajak rukuk dan sujud, yang selalu diawali dengan tanya yang sama: “sehat-sehat, nduk? Jangan lupa makannya harus yang bener ya.”
Sepotong cintaMu di awal hari ini, …
…
Ah, tunggu sebentar!
Bagaimana pula hamba ini, Rabb.
lihatlah belum habis hamba bercerita,
ternyata cintaMu tak terbilang kata.
Maafkan hamba sering kufur nikmat Ya Allah..
Maafkan hamba Ya Waduud.. Ampuni hamba.
Maka, SEPENUH CINTAMU SETIAP HARI HINGGA AKU MATI,
hamba memohon rahmat dan petunjukMu yang lurus agar terus menghujam hati.
Selalulah bersamaku.
Selalulah berdekatan denganku.
Ini saya Ya Rabb, yang mencoba menyamakan kadar cintaMu yang tak pernah sepotong-sepotong.
Pelukis langitku, pemeluk mimpiku, pemilik jiwaku,
Mampukan aku untuk terus mencintaiMu,
Bandung, 20 Maret 2013,
Tertanda: hambaMu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar