Sabtu, 15 Desember 2012

Maka Aku Menulis


3 Desember. 2012.
Bandung. Salah satu kota kesayangan.
Bismillaahirrahmaanirrahiim..
Alhamdulillaahirrabbil'aalamiin..
Terima kasih kepada Penguasa Hati dan Pemberi Kejadian: Allah SWT
Mungkin bisa jadi,
pada suatu ketika, -jika Allah memberiku pengalaman atau kesempatan menjalani masa tua-, ingatanku akan menghilang.
sedikit demi sedikit potongan kenangan akan hanya terlihat samar. segala bayangan menjadi kabur.
atau malah hilang sama sekali. 
Menjadi Tiada.
Maka, ketika masa itu tiba, kuharap perasaanku masih bisa 'bekerja' sebagaimana mestinya.
tidak menjadi lupa bagaimana 'rasa'nya bahagia, sedih, puas, kecewa, nyaman, benci, atau sayang. Atau apapun dia mampu merasa.
Maka aku menulis.
di jurnal syukur,
di lembar kertas,
di atas tissue,
di notepad laptop,
di komputer rumah,
di buku catatan Pemsis,
atau dimana saja.
Pernah suatu kali di selembar daun yang hampir kering yang kupungut sembarang di lapangan SR.
tentu saja jurnal syukur, kertas, tissue, laptop, komputer, buku catatan, dan daun, -sebagaimana "hidup"-, adalah tidak abadi adanya.
maka aku tidak mengatakan bahwa "aku menulis untuk mengabadikan kejadian."
Bukan.
Bukan itu.
Aku menulis.
sehingga jika pada suatu ketika nanti Allah mengizinkanku me'lupa'kan kejadian dan pengalaman yang telah lalu, 
aku masih dapat memanggil kembali perasaan-perasaanku di atas jurnal, kertas, tissue, laptop, komputer, buku catatan, atau daun itu.
semoga saat itu perasaanku masih ber'fungsi' sebagaimana mestinya.
maka melalui bantuan kacamata lensa positif seperti yang ibuku sering kenakan sekarang, akau akan membaca. memanggil kembali perasaan-perasaan yang Allah izinkan pernah terasa.
atau jika penglihatanku pun mulai membuktikan diri bahwa tiada dzat yang abadi selain Penguasa Hati, 
Maka aku harap,
saat itu ada seseorang yang bersedia menuturkan tulisanku di atas jurnal, kertas, tissue, laptop, buku catatan, atau daun itu, - dengan sabar dan penuh perhatian.
bisa jadi itu suamiku. atau anakku. atau cucuku.
kuharap bukan seseorang yang tak kukenal. bukan dokter. bukan suster. atau siapapun yang tidak punya ikatan batin denganku.
atau jika.
ini hanya jika.
:segala inderaku telah berhenti bekerja,
-semoga saja tidak dengan perasaanku-
tulisanku, sengaja atau tidak, akan terbaca oleh orang yang kusayang dan menyayangiku.
mungkin suamiku. atau adikku. atau anakku. atau cucuku.
atau sahabatku yang akan menyampaikannya kepada salah satu dari mereka.
Lalu, dengan izin Allah SWT,
yang belum terpikirkan olehku bagaimana caranya,
mungkin lewat mimpi, atau telepati,
aku dapat kembali merasakan perasaan-perasaan yang pernah terasa.
Alhamdulillaah..
Maka aku menulis,
sehingga jika aku sudah tiada,
semoga Allah menakdirkan suamiku, anak-anakku, atau cucuku nanti,sengaja atau tidak sengaja,
-mungkin mereka tiba-tiba menemukan buku ini di gudang, atau sahabatku memberikannya kepada salah satu dari mereka,-
: sempat membaca satu dua tulisanku. Lalu merasakannya. Lalu menemukan celah mengambil hikmah di setiap katanya.
Ah, sebenarnya aku memang telah membuat beberapa diantara tulisan-tulisan itu tertuju untuk mereka kelak.
Semoga Allah benar-benar menakdirkan mereka untuk membacanya.
Lalu menyadari bahwa mereka begitu berharga.
Alhamdulillaah..
Maka aku menulis.
mungkin dengan susunan kata, atau metode bercerita yang sedikit berbeda dengan buku merah itu. yang warna kertasnya sudah cokelat.
dengan lubang akibat rayap disana sini.
dengan sebuah foto wanita 20an tahun memakai kebaya.
buku itu ditemukan bapak di gudang rumah lama simbah. di dekat pendopo. mungkin sekitar dua tahun yang lalu. lalu aku simpan diam-diam.
disana tertulis, dengan huruf kapital rapi, nama kecilnya.
itu ibuku.
buk, kalau ibuk mau,
nanti aku bacakan buat ibuk.
kapanpun ibu mau.
insyaAllah.
-Allah membaca do'a do'aku. Dan Allah Maha Mengabulkan.-