Senin, 13 Agustus 2012

Menulisi Dua Sisi.



Biasanya,
sore hari, atau kapanpun waktu, 
saat aku tak kuat menampung sendiri sendu atau ragu, 
aku akan pergi ke tempat itu.
Masjid Salman.
Lalu aku akan melangkah ke selasar lantai hitamnya yang dingin.
yang menghadap taman di sebelah timur menara.
Terduduk di tangga
Menyerahkan kembali semua penat.

Ke dasar.
Ke tanah.
Lalu, entah bagaimana,
sekitarmu mulai kabur perlahan,
dan kau tenggelam dalam matamu yang, sekali lagi : entah bagaimana, berkabut.
tidak.
tidak lagi alam yang kau pandang sekarang.
melainkan dalam dirimu sendiri.
lalu, kau akan mulai berjalan melalui setiap tembok
pada labirin pikiranmu yang tidak sesederhana matematika ,
kemudian bercerita :

"Tentang hidup, 
bisa saja seperti hari ini.
Sendu.
Ragu.
Memilih, atau dipilih, 
atau dipilihkan.
Kau tak akan mengerti  mengapa kau ragu 
seperti nanti pada saatnya kau tak kan pernah mengerti mengapa kau memilih.
Atau dipilih.
Atau dipilihkan.

Ini bukan tentang mengapa, sayang.
Mengapa kau memilihku.
Mengapa kau dipilih aku.
Mengapa kita memilih untuk menunggu.
Mengapa kita mau-maunya dipilihkan waktu?

Ini tentang bagaimana.
Bagaimana langit mengisyaratkan.
Bagaimana hati menangkap sinyal.
Bagaimana, 
yang entah bagaimana kita akan paham dengan sendirinya.
pemahaman yang dari,
hmm..
entah dari mana.


Sayang
sayang sekali hidup menurut logika kita,
bukan hanya tentang hati.
padahal jelas sekali 
tidak ada yang tidak pernah berbohong.
kecuali nurani.
Kita lari, sekaligus diam di tempat.
Kita berani, sekaligus takut kehilangan.
Kita menunggu, sekaligus mencari.
Kita bertanya :
pertanyaan yang kau tahu tidak akan pernah terjawab jika hanya dengan 'jika'.
namun tetap kau tanyakan.

Sayang
hari ini kau dapati aku sendu setengah mati.
setelah malam tadi kau tahu bahwa bahagia adalah taat.
maka, bukankah tak mengapa,
jika hanya kusimpan sendiri?"

Hei.
Coba putar kembali!

"Mengapa kau selalu mengakhiri ujung perjalananmu itu dengan tanda tanya, sayang?
Mengapa?
Apakah karena batinmu bertanya-tanya,
tentang dunia yang hanya sekejap mata
namun entah bagaimana,
kau merasa ini terlalu lama?"

"Atau apakah karena yang kau ingin-ingini,
yang sungguh-sungguh kau ingini,
harus kau tinggal pergi.
Demi cara yang lebih terjaga?
Demi cinta yang tidak hanya berakhir di dunia?
Sejenak atau selamanya.
Tergantung Sang Maha Tahu Segala?"

ah, lihatlah,
aku mulai menanyakan pertanyaan tanpa jawaban.
maka, 
lupakan saja.

hmm,
sampai dimana kita tadi?
Masjid Salman ya?
Kita baru membicarakan selasarnya bukan?
Yang disana, setiap sore, 
apalagi Bulan Ramadhan,
halamannya akan bertabur celoteh anak suka cita.
atau pelajar dan mahasiswa
yang liqo' sambil menunggu adzan tanda berbuka.



Di samping jalan kecil menuju masjid itu, dulu terdapat asrama perempuan
tempat saudari-saudari yang tak pernah habis kukagumi keikhlasannya yang tanpa sisa.
Di tempat itu,
sekarang tinggal satu dua batu bata, 
entah akan dibangun apa.

Lalu, hmm..

Sebentar, akan aku perkenalkan.
Kau lihat itu?
Ketika kau menyeberang dari parkir SR menuju jalan setapak Salman,
tengoklah sedikit ke kanan,
sebuah mobil volkswagen kombi cokelat akan terparkir disana.
kalau aku tidak salah ingat, pemandangan itu akan terbiasa kau lihat setiap hari selain Jumat.

Lalu mungkin pada suatu sore kebetulan,
kau juga akan menemuiku di tempat yang sama.
berdiri memesan secangkir kopi yang selalu kubawa pulang.
Lalu apa yang kau harapkan dari kopi, dan selembar Bandung ketika sore menuju senja?
:)

Berbicara tentang kopi, ada cerita menarik yang ingin kukisahkan.
namun tidak.
tidak hari ini.

Hei, apakah kau masih disana?
Jika iya, maka bolehkan aku membawamu pada malam keenam bulan Ramadhan.


"Mungkin hanya sekali ini,
selama hidup,
aku akan berada disini dengan suasana persis seperti ini
pada pukul sekian Ramadhan kesekian :

Selasar Masjid Salman.

Kau sedang dimana, sayang?
Aku kini tengah memandang bangunan yang menjulang itu.
menghadap taman tempat anak-anak berlari sementara ibunya mengaji.

Suaranya melengking-lengking riang.
Lampu kendaraan disebelah kiriku kadang menerani jalan.
satu. dua.
Bergantian pantulannya dengan lampu-lanpu tinggi berjarak.
Warnanya oranye.
Suaranya terdengar jauh.
Ada.
Tapi tak kupedulikan.

Suara berat itu sedang menceritakan ilmu.
Kali ini tentang orang yang zuhud.
Kata beliau, kita hidup di dunia,
seharusnya seperti orang asing,
seperti orang dalam perjalanan.

Ah, andai saja kau disini.

Aku dan Rabb-ku sedang menatap
langkah-langkah kecil lari-lari bocah berkerudung itu.
Mengitari lampu taman masjid Salman
Tas merahnya bergoyang-goyang di punggung.
meninggalkan seorang adik kecil, laki-laki, mengejar, mengepung.

Seandainya kau disini,

kau dan aku akan asyik sendiri.
Menatap apa yang telah lama tak kutatap :
alam raya.

Sayang, 
kau tahu? sesungguhnya aku sangat rindu,
kepada waktu.
Saat dulu aku merasa tak diburu.

Hanya aku :
menulis,
berbincang dengan Rabb-ku,
Memohon-mohon dengan bahagia,
berharap meluap-luap.
sambil memandangi uap teh yang mengabur oleh kabut,
cahaya yang masih secercah,
hijau di ujung pandang,

dan gradasi.

Ya, 
gradasi pada lukisan paling lapang.
Lukisan lepas pandang
yang tanpa cela.

Itu langitMu, duhai Rabb

Kali ini warnanya hitam,
Tapi, toh, semua tetap lapang.

Suara burung masih terdengar.
Desau angin masih berdesing.
Suara firmanMu terlantun jelas kudengar.

Suasana.

Aku tahu,
Belum usai bulan ini pun,
aku akan masih rindu dengan suasana ini.
perasaan ini.
lingkungan ini.

haru ini.

RahmatMu yang bertubi-tubi..
Lembut, halus membelai hati.
Tegas tercerna fikir.

Ya Rabb, beginilah dahulu salah satu cara kita berbincang bukan?

Sayang,
jika kau tak keberatan,
tolong tanyakan kepadaNya :
Apakah Dia mencariku?
Apakah Dia juga rindu padaku?
Lalu tentang kita, 
Apakah Dia setuju?"



Ah, maafkan aku.
Tidurlah.






Musik : Payung Teduh, Kita adalah Sisa-Sisa Keikhlasan yang Tak Diikhlaskan ; Tidurlah
Lukisan Masjid Salman : Zsami, Matahari Indonesia












Tidak ada komentar:

Posting Komentar